Museum Dar Al Madinah Menyimpan Banyak Sejarah

Museum Dar Al Madinah, Berada di kota Madinah, belum lengkap bila tidak mengunjungi Museum Dar Al Madinah yang ditempuh jarak sekitar 20 menit dari Masjid Nabawi. Museum Dar Al Madinah selalu menjadi tujuan favorit bagi para jamaah haji dan umrah serta seluruh warga Saudi itu sendiri. Telah tercatat ada sebanyak 60.000 orang yang sudah mengunjungi museum pada tahun 2015 yang lalu. Secara geografis, letak museum ini memang tidak berdekatan dengan Masjid Nabawi. Lain halnya dengan dua museum yang hampir menempel dengan masjid yang dibangun oleh Rasulullah. Meski, letak Museum yang cukup jauh, akan terbayar jika sudah mengujungi museum tersebut.

Museum Dar Al Madinah Menyimpan Banyak Sejarah

Para pengunjung Museum Dar Al Madinah ini dapat belajar banyak tentang sejarah yang ada di kota Madinah, karenanya membuat kota ini menjadi pusat belajar yang tepat untuk para anak sekolah dan untuk mereka yang sedang melakukan penelitian tentang kota Madinah. Museum ini dapat dikunjungi oleh siapa saja.

Ide didirikannya Museum Dar Al Madinah ini berasal dari Abdulaziz Kaki, yang mendirikan lembaga ketika itu sedang perluasan Masjid Nabawi dimulai sehingga mengakibatkan banyak situs bersejarah Madinah dan artefak hilang. Abdulaziz Kaki mulai mengumpulkan potongan-potongan artefak sejarah dan Islam. Ia mulai bekerja dengan membuat Museum Dar Al Madinah di kota. Pada awalnya dibukanya museum ini, hanya dengan sebuah ruang kecil dengan memamerkan sejumlah koleksi.

Museum baru yang lebih besar tersebut kemudian dibuka oleh Emir dari Madinah, Pangeran Abdulaziz Bin Majed. Kemudian pada fase ketiga akan memperluas museum lebih lanjut. Pekerjaan ini termasuk bangunan baru yang memiliki lebih banyak lagi dokumen bersejarah dari kota. Musem yang telah dibuka secara resmi ini pada tahun 2011, yang memberikan sajian sejarah kota Madinah sejak zaman Nabi dan memiliki banyak potongan-potongan menjelaskan warisan fisik dan budaya kota.

Direktur eksekutif Museum Dar Al Madinah yakni Hassan Taher, menuturkan bahwa koleksi museum juga termasuk koin-koin dari zaman nabi Muhammad SAW, gambaran Ka’bah dari berbagai zaman, tembikar dari era Umayyah dan koleksi lainnya dari era Mameluk dan Ottoman.

Karena kehebatannya, Museum Dar Al Madinah ini juga pernah memenangkan hadiah Internasional Raja Faisal dan penghargaan penting lainnya. Museum ini memiliki banyak buku dan artikel tentang sejarah kota Madinah. 

“Museum ini merupakan museum pertama dan satu-satunya yang ada di Madinah yang khusus menampilkan warisan arsitektur dan perkotaan Madinah. Museum injuga sebagai model yang dapat mensimulasikan berbagai sejarah Madinah ini juga dilengkapi tim pemandu wisata yang terlatih dan berkualitas yang menguasai bahasa yang berbeda-beda.” Ungkap Taher.

Meski museum ini cukup terawat dan disambut dengan beberapa meja kursi taman yang terbuat dari daun kurma, suasana yang terdapat di museum belum terasa. Karena beberapa maket masjid yang ada di Madinah tertata di antara sejumlah kios yang belum sepenuhnya buka jika mengunjunginya di pagi hari. Pastinya hanya beberapa guci dan teko kuno serta lampu arsitek yang terpasang di tembok gedung, mulai menyiratkan aroma sebuah museum. Penataan taman yang mungil sebelum menuju pintu masuk cukup menambah kesan arsitek .

Halaman terbuka ini seolah memberikan gambaran koridor berumput figurative yang menampilkan arsitektur lokal tua kota Madinah. Namun, untuk bisa masuk ke museum Dar Al Madinah ini tidak gratis. Para pengunjung harus menyiapkan uang sebesar 25 riyal untuk tiketnya saja. Jika disana ingin bersantai terlebih dahulu, tersedia gubuk kecil yang menyediakan minuman teh hingga kopi Arab. Untuk satu gelas teh hangatnya saja harus menyiapkan 4 riyal.

Gubuk kecil tersebut diibaratkan kefe tua. Dimana para pengunjung seolah dapat beristirahat sejenak dengan mengambil air harum dari pot tembikar tradisional. Setelah itu, sebelum memulai penjelajahan area dalam museum, pengunjung yang datang akan didata, terkait dengan kebutuhan pemandu. Terutama untuk layanan bahasa yang akan digunakan.

Seorang pengelola museum yang bernama, Sulaiman mengatakan pengunjung yang disiapkan pemandu yang mampu dalam berbicara dengan bahasa Arab, Urdu dan Turki. Dengan Tim pemandu yang terampil akan menemani pengunjung selama berkeliling museum. Secara singkatnya, Dar Al Madinah ialah museum kota pertama yang menampilkan arsitektur dan ruang budaya, dengan luas yang dimilikinya 500 meter persegi, museum mencakup berbagai miniatur, patung dan gambar langka dari kota Madinah.

Pengunjung pun dibawa dalam suasana spiritual perjalanan sejarah Nabi Muhammad SAW, saat hijrah dari Makkah ke Madinah, pembangunan Masjid Nabawi hingga perkembangan kota Madinah. Pada bagian awal pemandu akan menjelaskan mengenai sejarah dan evolusi kota Makkah. Termasuk dalam proses Ka’bah, yang terlihat mengalami enam fase pengembangan, hingga pada masa hijrahnya Nabii SAW dari Makkah ke Madinah. Selain itu juga, pengunjung akan diberikan gambaran Masjid Quba, yang pertama kali Nabi Muhammad SAW, menajalankan shalat Jum’at berjamaah setelah hijrahnya itu.

Selanjutnya, pengunjung juga akan dijelaskan mengenai sejarah pembangunan dan pengembangan Masjid Nabawi yang awalnya itu hanya seluas 30 x 35 meter, kemudian perubahan ketiga seluas 50 x 50 meter hingga saat ini mampu menampung sekitar 1 juta jamaah. Pengunjung akan mendapatkan cerita sejarah mengenai pertempuran yang terjadi di Uhud pada tahun ketiga Hijriyah, serta perang Khandaq pada tahun kelima Hijriah. 

Di dalam museum, pengunjung juga akan dibawa untuk melihat landmark, budaya dan peradaban perkotaan pada awal Kerajaan Arab Saudi, sebelum adanya perluasan Masjid Nabawi di era Raja Abdul Aziz Al Saud. Selain itu, beberapa benda bersejarah dan koleksi busana pengantin sekitar 100 tahun yang lalu masih tersimpan rapi.

Bagi jamaah haji dan umrah Indonesia yang masih berada di Madinah, museum ini menjadi salah satu alternatif tujuan wisata sejarah. Minimal untuk mengetahui dan mengingat kembali sejarah perjanan Hijrah Nabi Muhammad SAW dan perkembangan kota Madinah.

Komentar