Masa Kejayaan Samarkand - Uzbekistan merupakan sebuah daratan tua yang ada di Asia Tengah yang hidup dengan banyak legenda dan sastra. Negara ini memiliki ekosistem yang sangat luar biasa. Uzbekistan mungkin bukanlah negara tujuan untuk berwisata favorit traveler Indonesia. Namun, kalau sudah mengenal lebih jauh negara satu ini, dijamin kamu akan langsung tertarik untuk mencoba menginjakkan kaki di negara tersebut. Uzbekistan juga identik dengan padang pasir tanpa batas disertai dengan deretan caravan unta, menara-menara yang anggun, madrasah-madrasah, makan yang berarsitektur oriental, lembar-lembar sutra cantik, sulaman emas kelas dunia hingga pemandangan budaya Islam pada abad pertengahan yang menawan.
Di samping itu, jika kamu berkunjung kesana, akan ada banyak spot wisata indah yang sudah menanti untuk disambangi. Lalu, ada apa saja ya disana? Kamu penasaran? Yuk langsung saja kita akan mengulas bersama. Pertama kita akan mengulas masa kejayaan Samarkand, Uzbekistan.
Objek wisata yang dapat Anda kunjungi di Uzbekistan adalah kota Samarkand. Kota para Imam di masa kejayaan Samarkand. Samarkand ialah kota tua yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO. Pesona bangunan-bangunan tua yang bertengger megah dan mewah di kota ini dijamin akan mampu memikat para pelancong untuk datang dan kembali lagi.
Samarkand juga merupakan kota yang paling penting dalam sejarah Islam di Asia Tengah. Sebab menjadi tempat penyebaran agama Islam khususnya ke negara-negara Asia Tengah. Di samping itu, kota tersebut juga sebagai tempat tinggal para tokoh ulama terkenal. Menelusuri sejarahnya, Samarkand merupakan Ibukota Transoksania selama lima abad sejak masa dinasti Saman hingga dinasti timur.
Samarkand terkenal sebagai kota surga sebab iklim disana sangat sejuk sekali. Penduduknya berkisar 500.000 jiwa. Pada saat ini, Samarkand kota terpenting yang ada di Uzbekistan di bidang pedagangan, pertanian dan industri. Kota ini sebelumnya pernah mengalami tiga kali masa kehancuran.
Pertama di tahun 329 sebelum masehi oleh Alexander, ketika Samarkand masih bernama Markanda. Kehancuran yang kedua terjadi pada masa Jengis Khan di tahun 617 hijriah atau 220 masehi. Dan terakhir terjadi pada masa Uzbek, pertengahan abad kesembilan Hijriah (abad ke-15 masehi).
Saat itu, suku-suku Uzbekistan belum menganut agama Islam. Islam baru mulai masuk ke Transoksania sekitar tahun 46 Hijriah. Pada masa itu, Kutaiba bin Muslim di tunjuk sebagai gubernur Khurasan saat kendali pemerintah masih berada di tangan Tharkhun. Kemudian, terjadilah sebuah perdamaian di tahun 91 H/709 M di antara Tharkhun dan Kutaiba ibn Muslim dengan adanya kesepakatan bahwa Trakyat Tharkhun marah dan kemudian harkhun berkewajiban untuk membayar jizyah/upeti dan jaminan kepada umat Islam.
Dimana perjanjian damai itu justru membuat rakyat Tharkhun marah dan kemudian memaksanya untuk melepaskan jabatan dan meggantikannya dengan Ikhsyid Ghurak. Pada tahun 93H/712M Kutaiba baru berhasil memaksa penguasa baru itu agar menyerah setelah waktu sebelumnya itu melakukan pengepungan kota Samarkand beberapa lama. Samarkand menjadi pangkalan penyebaran Islam ke India, Rusia dan Cina.
Rusia itu sendiri bahkan pernah takluk selama tiga abad dimana adipati Moskwa membayar upeti kepada pemerintahan Bukhara pada setiap tahunnya. Tapi lambat laun, dengan berjalannya waktu, kakuatan Samarkand makin melemah. Ini terjadi diakibatkan oleh kaisar-kaisar Rusia yang berhasil merebut wilayah-wilayah Islam kembali. Benteng Islam pertama di Transoksania ialah benteng aq Masjid jatuh ke tangan Rusia pada tahun 1852 Masehi.
Kekaisaran Rusia melakukan penyerbuan kota Samarkand dan kota-kita Islam lainnya bersamaan waktunya pada saat Turki Ustmani telah mengancam Asia, Eropa, dan Afrika di pertengahan abad ke-16. Ketika komunis memiliki kekuasaan di Rusia, Samarkand masuk menjadi bagian dari negara Uni Soviet hingga pada masa keruntuhannya di tahun 1991.
Kota Samarkand akhirnya masuk dalam wilayah Republik Uzbekistan setelah Republik Uzbekistan merdeka. Dan saat ini Samarkand terkenal dengan tekstil, industri kertas dan karpetnya. Selain itu, ada banyak sekolah di sana yang mengindikasikan betapa besar perhatian dari penduduk setempat terhadap ilmu pengetahuan.
Julukan Samarkand di masa lalu ialah kota para pelajar. Di sini juga terdapat sejumlah ulama terkemuka seperti Abu Manshur Maturidi, Muhammad Addi As-Samarkandi, Ahmad ibn Umar, Muhammad ibn Mas’ud As-Samarkandi (penyusun Tafsir Al-Iyasyi), Abu Bakr As-Samarkandi, Alauddin As-Samarkandi, Najibuddin As-Samarkandi, Qadi Zadah Ar-Rumi dan Abul Qasim Al-Laitsi As-Samarkandi.
Dan bahkan, disana juga terdapat makam Imam Bukhari. Siapa yang tidak mengenal Imam Bukhari? Ulama dan cendikiawan itu masa hidupnya memberikan pencerahan kepada umat Muslim maupun dunia, lewat dari ilmu fikih dan kitab haditsnya yang termasyhur. Imam Bukhari berasal dari Bukhara, Uzbekistan. Wilayah tersebut masih di Asia tengah, yang sebelumnya pernah menjadi bagian negara Uni Soviet.
Imam Bukhari memiliki nama asli yakni Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Al-Ju’fi Al-Bukhari. Saat itu beliau juga dikenal dengan julukan Abu Abdullah sebab memiliki putra tertua yang bernama Abdullah. Sedangkan, nama Bukhari itu dinisbatkan kepada desa tempat kelahirannya. Beliau dilahirkan pada hari Jum’at, 13 Syawal 194 H/810 M, di desa Bukhara, Uzbekistan. Ayahnya bernama Ismail seorang ulama hadits. Bukhari tidak pernah meresakan dunia pendidikan dari ayahnya, sebab di usianya sekitar 5 tahun, ia telah menjadi yatim.
Samarkand betul-betul kota terbesar ketiga di Uzbekistan. Kota ini memikat jiwa wisatawan. Dan bahkan, siapa saja yang pernah berkunjung ke sana, tentunya memiliki keinginan untuk kembali berkunjung ke kota tersebut. keindahan Samarkand dapat kita lihat pada bangunan-bangunan tua megah dan mewah dengan arsitektur Islam yang menghiasi kota itu. bangunan-bangunan indah peninggalan Islam pada masa lampau ini dapat dilihat di kawasan Registan Square.
Kawasan ini merupakan pusat kota tradisonal yang senantiasa mengundang rasa kekaguman seseorang yang datang kesana. Selain itu, ada juga tiga bangunan yang ada disana serta menjadi peniggalan Ulugh Beg, yang merupakan seorang penguasa keempat dinasti Timurid. Salah satunya itu adalah Madrasah Ulugh Beg, yang merupakan perguruan tinggi pada zaman dahulu.

Komentar
Posting Komentar